ETAPE 2
"THE CHANG HOO VILLAGE"
21 DESEMBER 2008
21 DESEMBER 2008
Etape ke-2 dengan issue Desa Chang Hoo (laksamana Chang Hoo) yang kemudian ditafsirkan sebagai cikal bakal nama Desa Canggu ternyata pada penelusuran fakta lokasi dan tilik sejarah adalah tidak benar !!!
Desa Canggu telah ada jauh sebelum pasukan Tar Tar datang !!!
Sehingga dapat dipastikan bahwa desa Canggu adalah desa tua di Mojokerto.
Sehingga dapat dipastikan bahwa desa Canggu adalah desa tua di Mojokerto.
Berikut tilik sejarah yang ditemukan :
Latar Belakang
Pada perempat akhir abad ke-13, Kertanagara raja Singhasari terlibat persaingan melawan Kubilai Khan kaisar Mongol dalam memperebutkan pengaruh di kawasan Asia Tenggara.
Pada tahun 1289 Kubilai Khan mengirim utusan bernama Meng Khi untuk meminta Kertanagara supaya mengakui kekuasaan Kubilai Khan dan mengirim upeti ke Mongol setiap tahunnya. Kertanagara menolak permintaan itu, bahkan ia berani melukai wajah Meng Khi.
Penghinaan terhadap kekuasaan Mongol ini menyebabkan kemarahan Kubilai Khan. Pada tahun 1292 ia mengirim 20.000 orang tentara dipimpin Ike Mese, Kau Hsing, dan Shih Pi untuk menaklukkan Jawa.
Ejaan Cina untuk Nama-Nama Jawa
Kisah serangan Mongol terhadap Jawa tersebut tercantum dalam Catatan Sejarah Dinasti Yuan yang telah diterjemahkan oleh W.P. Groeneveldt, dalam bukunya, Notes on The Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Sources (1880).
Dalam kronik Cina tersebut, tentu saja nama-nama Jawa tertulis dalam ejaan Cina, antara lain:
Kertanagara disebut Ka-ta-ma-ka-la
Raden Wijaya disebut Tu-han-pi-ja-ya
Jayakatwang disebut Ha-ji-ka-tang
Gelang-Gelang disebut Ka-lang
Daha disebut Ta-ha
Tumapel disebut Tu-ma-pan
Tuban disebut Tu-ping-suh
Kedatangan Pasukan Mongol
Pasukan Mongol mendarat di Jawa tanggal 1 Maret 1293. Ike Mese mendengar kalau Kertanagara telah tewas dan memiliki ahli waris bernama Raden Wijaya. Ia pun mengirim utusan menemui Raden Wijaya yang berkampung di Majapahit.
Raden Wijaya bersedia menyerah dan tunduk kepada Mongol asalkan terlebih dahulu dibantu mengalahkan Jayakatwang raja Kadiri. Ike Mese kemudian diundang ke desa Majapahit untuk dimintai bantuan mengusir pasukan Kadiri yang datang menyerang.
Tentara Kadiri menyerang Majapahit dari tiga jurusan. Namun semuanya dapat dipukul mundur oleh pasukan Mongol.
Penyerangan ke Kadiri
Pasukan Mongol dan Majapahit ganti menyerang ibu kota Kadiri dari berbagai jurusan. Ike Mese menyerang dari timur, Kau Hsing dari barat, Shih Pi menyusuri sungai, sedangkan pasukan Raden Wijaya sebagai barisan belakang.
Perang meletus tanggal 20 Maret 1293 pagi. Kota Daha digempur tiga kali meskipun sudah dijaga 100.000 orang prajurit. Lebih dari 5.000 orang mati terbunuh. Jayakatwang akhirnya menyerah pada sore harinya, dan ditawan di atas kapal Mongol.
Pengusiran Pasukan Mongol
Setelah Jayakatwang kalah, Raden Wijaya mohon diri kembali ke Majapahit. Ike Mese dan Shih Pi mengizinkan, bahkan memberikan 200 orang tentara Mongol sebagai pengawal. Kau Hsing curiga namun tidak kuasa menentang keputusan komandan.
Pada tanggal 19 April 1293 Raden Wijaya ganti menyerang pihak Mongol. Tentara Mongol yang berpesta di Daha dan Canggu diserbu. Ike Mese memutuskan mundur setelah kehilangan 3.000 orang tentaranya.
Pasukan Mongol akhirnya meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293, dengan membawa pulang lebih dari 100 orang tawanan, peta, daftar penduduk, surat bertulis emas dari Bali, dan barang berharga lainnya yang bernilai sekitar 500.000 tahil perak. Mereka juga sempat menhukum mati Jayakatwang dan putranya, yaitu Ardharaja, di atas kapal.
Setelah sampai di negerinya, Ike Mese dan Shih Pi ganti dihukum mati karena dinilai gagal menjalankan tugas.
Pasukan Mongol dalam Karya Sastra Jawa
Nagarakretagama memberitakan kerja sama Raden Wijaya dan pasukan Mongol secara singkat. Dalam naskah itu, pasukan Mongol disebut sebagai bangsa Tartar.
Sementara itu Pararaton menyebut Mongol sebagai bangsa Tatar. Dikisahkan Arya Wiraraja meminta bantuan raja Tatar supaya membantu Raden Wijaya mengalahkan Jayakatwang. Sebagai imbalan, kedua putri Tumapel, yaitu Tribhuwaneswari dan Gayatri ditawarkan sebagai hadiah.
Kisah tersebut hanyalah imajinasi pengarang Pararaton belaka, karena kedatangan pasukan Mongol bukan atas undangan Arya Wiraraja, melainkan karena diperintah oleh Kubilai Khan.
Meskipun terkesan licik dan curang, namun Raden Wijaya telah berjasa menyelamatkan tanah Jawa dari penjajahan bangsa Mongol.
Prasasti Canggu (1358 M)
Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.
Prasasti Canggu (Trowulan I)
Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung.
Pada perempat akhir abad ke-13, Kertanagara raja Singhasari terlibat persaingan melawan Kubilai Khan kaisar Mongol dalam memperebutkan pengaruh di kawasan Asia Tenggara.
Pada tahun 1289 Kubilai Khan mengirim utusan bernama Meng Khi untuk meminta Kertanagara supaya mengakui kekuasaan Kubilai Khan dan mengirim upeti ke Mongol setiap tahunnya. Kertanagara menolak permintaan itu, bahkan ia berani melukai wajah Meng Khi.
Penghinaan terhadap kekuasaan Mongol ini menyebabkan kemarahan Kubilai Khan. Pada tahun 1292 ia mengirim 20.000 orang tentara dipimpin Ike Mese, Kau Hsing, dan Shih Pi untuk menaklukkan Jawa.
Ejaan Cina untuk Nama-Nama Jawa
Kisah serangan Mongol terhadap Jawa tersebut tercantum dalam Catatan Sejarah Dinasti Yuan yang telah diterjemahkan oleh W.P. Groeneveldt, dalam bukunya, Notes on The Malay Archipelago and Malacca, Compiled from Chinese Sources (1880).
Dalam kronik Cina tersebut, tentu saja nama-nama Jawa tertulis dalam ejaan Cina, antara lain:
Kertanagara disebut Ka-ta-ma-ka-la
Raden Wijaya disebut Tu-han-pi-ja-ya
Jayakatwang disebut Ha-ji-ka-tang
Gelang-Gelang disebut Ka-lang
Daha disebut Ta-ha
Tumapel disebut Tu-ma-pan
Tuban disebut Tu-ping-suh
Kedatangan Pasukan Mongol
Pasukan Mongol mendarat di Jawa tanggal 1 Maret 1293. Ike Mese mendengar kalau Kertanagara telah tewas dan memiliki ahli waris bernama Raden Wijaya. Ia pun mengirim utusan menemui Raden Wijaya yang berkampung di Majapahit.
Raden Wijaya bersedia menyerah dan tunduk kepada Mongol asalkan terlebih dahulu dibantu mengalahkan Jayakatwang raja Kadiri. Ike Mese kemudian diundang ke desa Majapahit untuk dimintai bantuan mengusir pasukan Kadiri yang datang menyerang.
Tentara Kadiri menyerang Majapahit dari tiga jurusan. Namun semuanya dapat dipukul mundur oleh pasukan Mongol.
Penyerangan ke Kadiri
Pasukan Mongol dan Majapahit ganti menyerang ibu kota Kadiri dari berbagai jurusan. Ike Mese menyerang dari timur, Kau Hsing dari barat, Shih Pi menyusuri sungai, sedangkan pasukan Raden Wijaya sebagai barisan belakang.
Perang meletus tanggal 20 Maret 1293 pagi. Kota Daha digempur tiga kali meskipun sudah dijaga 100.000 orang prajurit. Lebih dari 5.000 orang mati terbunuh. Jayakatwang akhirnya menyerah pada sore harinya, dan ditawan di atas kapal Mongol.
Pengusiran Pasukan Mongol
Setelah Jayakatwang kalah, Raden Wijaya mohon diri kembali ke Majapahit. Ike Mese dan Shih Pi mengizinkan, bahkan memberikan 200 orang tentara Mongol sebagai pengawal. Kau Hsing curiga namun tidak kuasa menentang keputusan komandan.
Pada tanggal 19 April 1293 Raden Wijaya ganti menyerang pihak Mongol. Tentara Mongol yang berpesta di Daha dan Canggu diserbu. Ike Mese memutuskan mundur setelah kehilangan 3.000 orang tentaranya.
Pasukan Mongol akhirnya meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293, dengan membawa pulang lebih dari 100 orang tawanan, peta, daftar penduduk, surat bertulis emas dari Bali, dan barang berharga lainnya yang bernilai sekitar 500.000 tahil perak. Mereka juga sempat menhukum mati Jayakatwang dan putranya, yaitu Ardharaja, di atas kapal.
Setelah sampai di negerinya, Ike Mese dan Shih Pi ganti dihukum mati karena dinilai gagal menjalankan tugas.
Pasukan Mongol dalam Karya Sastra Jawa
Nagarakretagama memberitakan kerja sama Raden Wijaya dan pasukan Mongol secara singkat. Dalam naskah itu, pasukan Mongol disebut sebagai bangsa Tartar.
Sementara itu Pararaton menyebut Mongol sebagai bangsa Tatar. Dikisahkan Arya Wiraraja meminta bantuan raja Tatar supaya membantu Raden Wijaya mengalahkan Jayakatwang. Sebagai imbalan, kedua putri Tumapel, yaitu Tribhuwaneswari dan Gayatri ditawarkan sebagai hadiah.
Kisah tersebut hanyalah imajinasi pengarang Pararaton belaka, karena kedatangan pasukan Mongol bukan atas undangan Arya Wiraraja, melainkan karena diperintah oleh Kubilai Khan.
Meskipun terkesan licik dan curang, namun Raden Wijaya telah berjasa menyelamatkan tanah Jawa dari penjajahan bangsa Mongol.
Prasasti Canggu (1358 M)
Mengenai pengaturan tempat-tempat penyeberangan di Bengawan Solo.
Prasasti Biluluk (1366 M0, Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M).
Menyebutkan tentang pengaturan sumber air asin untuk keperluan pembuatan garam dan ketentuan pajaknya.
Prasasti Canggu (Trowulan I)
Mengenai aturan dan ketentuan kedudukan hukum desa-desa di tepi sungai Brantas dan Solo yang menjadi tempat penyeberangan. Desa-desa itu diberi kedudukan perdikan dan bebas dari kewajiban membayar pajak, tetapi diwajibkan memberi semacam sumbangan untuk kepentingan upacara keagamaan dan diatur oleh Panji Margabhaya Ki Ajaran Rata, penguasa tempat penyeberangan di Canggu, dan Panji Angrak saji Ki Ajaran Ragi, penguasa tempat penyeberangan di Terung.
PENELUSURAN GAMBAR LOKASI
HASIL KUNJUNGAN SEKITAR CANGGU

Bapak Drs. Suharyono, M.Pd
Kasi Kurikulum SMA Diknas Kab. Mojokerto
di daerah persiapan (bawah patung Gadjah Mada)
Tim "Genjot" diatas jembatan Pagerluyung
Ekspresi perjalanan
Pose di depan rumah Ibu Dra. Banowati, M.Pd
Kemantren Gedeg Mojokerto

Anggrek hadiah ulang tahun Bu Banowati
Mejeng di depan rumah Bpk. Drs. Suwasis, M.Pd
Dsn. Singopadu Ds. Canggu Jetis Mojokerto
Foto lagi,,,,, sing motret durung katut
Kunjungan ke kelompok penggemukan sapi
jenis Brahma dan Limusin
sapinya lagi baris.... n... ek..ek
juga pipis deh ....
adalah Bapak Totok (kaos hitam) owner sapi unggulan
jumlah guratan pada tanduk sapi
menunjukkan jumlah anak yang telah lahir
situs kapal Meng Khi
dihentikan setelah 40 th dieksplorasi
kenapa dihentikan eksplorasinya?
dananya abis kali !!!!!
bukan Syeh Puji !!!!
Anindya Ika Putri Hadiwasito (siswa)
Pak Har mau start lagi....
Ibu Ita (Bank Syariah Mojosari)
Mbak Dewi (mahasiswa)
Yonas "the Big man of Castle"
Rumah Bpk. Bagus Amrozi, S.PdPuri Mojo Baru Canggu Jetis Mojokerto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar